Jumat, 29 Mei 2015

Pentingnya Cita-Cita

“Mendidik anak (generasi muda) menjadi taqwa, sholeh, disiplin, pekerja keras, cerdas, pinter, dst tanpa memberinya tantangan dan visi masa depan, sama saja dengan memiliki mobil (kendaraan) yang powerful, canggih, irit BBM, dsb tetapi hanya dipajang di garasi.

Semakin mahal mobil, semakin besar biaya perawatan (service routine, ganti oli 6 bulan sekali, cuci utk menghilangkan debu, resiko korosi, premi asuransi, dsb.). Demikian pula dengan semakin hebat anak-anak kita, semakin besar "biaya maintenance"nya.

Hanya pemanfaatan ketaqwaan, kesholehan, kedisplinan, kecerdasan dsb. untuk memberikan value (nilai - return) yang dapat menjustifikasi besarnya "biaya maintenance”.

Mereka yang tidak begitu taqwa, tidak begitu sholeh, tidak begitu disiplin, tidak begitu berkerja keras, tidak begitu cerdas, tidak begitu pinter, dsb tetapi memiliki tujuan yang jelas adalah laksana mobil murah tetapi dimanfaatkan, tidak hanya dipajang. Pemanfaatan mobil murah ini menghasilkan revenue dan profit sehingga dapat dipakai untuk upgrade mobil menjadi grade yang lebih tinggi, yang kemudian pemanfaatnnya juga menghasilkan revenue dan profit yang lebih tinggi lagi.

Rumuskan cita-cita Anda (walau itu sepele dan duniawi). Jangan sampai kajian untuk peningkatan ketaqwaan justru menghilangkan cita-cita duniawi.“

~ Prof. Jazi Eko Istiyanto

Siapa Sahabat mu ?


Sahabat....
Kadang - kadang sahabat yang suka traktir kita makan, bukan kerana mereka berkelebihan tapi karena mereka meletakkan persahabatan melebihi uang.....
Kadang - kadang sahabat yang rajin bekerja, bukan karena mereka sok pandai tapi karena mereka memahami akan tanggung jawab.......
Kadang - kadang sahabat yang memohon maaf dulu setelah pertengkaran bukan karena mereka salah tapi karena mereka menghargai orang di sekeliling mereka......
Kadang - kadang yang sukarela membantu kita, bukan kerana mereka berhutang apa-apa tapi karena mereka lihat kita sebagai seorang sahabat......
Kadang-kadang sahabat atau saudara yang selalu SMS DAN WA anda, bukan kerana mereka gk ada kerjaan tapi karena mereka INGAT PADA ANDA.......
Satu hari, kita semua akan terpisah, kita akan terkenang obrolan dan impian yang pernah ada.
Hari berganti hari, bulan, tahun, hingga hubungan ini menjadi asing........
Satu hari anak2 kita akan melihat foto2 kita dan bertanya?
"Siapa mereka semua itu?".....
Dan kita tersenyum dengan air mata yang tidak kelihatan karena hati ini terusik dengan kata yang sayu, lalu berkata,
"DENGAN MEREKALAH ADA HARI YANG PALING INDAH DALAM HIDUP SAYA."
TERIMA KASIH SAUDARAKU..

Bercakap Tentang Adab

Namun Syafi’i muda bukanlah kita, yang –jangankan hafal-, tau sedikit tentang sesuatu saja, kadang kita merasa tidak perlu belajar lagi.
-----
Ceritanya hari itu seorang professor masuk ke kelas kami. Mengajar sebuah pelajaran sederhana: pengukuran tekanan darah. Bahasa awamnya, tensi.

Beliau cukup sepuh dibanding kami yang baru semester satu. Ekspektasi kami sederhana: ini orang pasti jagoan.
Izinkan saya potong sejenak. Secara umum, di dunia kami ada dua cabang besar dalam pembagian jalur kelimuan. Pertama jalur akademik, dan kedua jalur profesi. Yang pertama ini berkutat dengan pendidikan dan penelitian. Mereka yang memilihnya akan menjadi akademisi atau peneliti. Dan yang kedua akan berkutat dengan kasus-kasus di lapangan. Mereka yang menekuninya akan menjadi seorang klinisi. Seorang calon dokter bisa memilih satu jalur atau dua-duanya. Menjadi peneliti, klinisi, atau klinisi yang terus meneliti.

Nah, professor kami tadi, beliau murni seorang peneliti. Sama sekali tidak bersentuhan dengan urusan klinis. Mungkin tersebab tidak pernah lagi memegang tensimeter –karena bukan klinisi-, beliau sedikit gelagapan saat mengajarkan tentang cara mengukur tekanan darah. Sesuatu yang –bahkan sebenarnya-, anda tidak harus menjadi dokter untuk bisa melakukannya.

Begitu beliau selesai dengan kelasnya, mulailah satu persatu reaksi bermunculan. “Amarah” yang dipendam selama pelajaran berlangsung kini seperti menemukan muaranya.
“Gimana sih, masak iya jadi dosen ngajarnya kayak gitu?”. Atau “Masak iya sih ngajar tensi aja nggak bisa?” Dan berbagai macam “umpatan-umpatan” lain yang sepertinya sudah tak kuasa ditahan lebih lama lagi.

Wajar sebenarnya. Toh professor itu memang tidak bisa memenuhi ekspektasi murid-muridnya. Tapi petanyaannya, apakah pantas? Nah, mari kita pelajari.
------
Kita tahu apa itu adab. Sederhananya, adab adalah bagaimana kita menempatkan diri kita pada sesuatu yang sedang kita hadapi. Itu adab.
Seberapa penting pembahasan adab ini kita masukan pada saat kita membahas tentang tema menuntut ilmu?

Maka jawabannya adalah persis seperti apa yang disampaikan oleh abddullah ibnul mubarak. Kata beliau, “belajarlah adab sebelum belajar ilmu, karena ilmu tidak akan berguna tanpa adab. Demi allah, jika suatu saat kita mati saat mempelajari adab meskipun kita belum selesai mempelajari ilmu, maka itu sudah cukup bagi kita untuk menghadap Allah.”

Suatu hari ibnu sina sedang mendengarkan gurunya menyampaikan pengajarannya. Dengan kepandaian tingkat dewa yang dia punya, dia ajukan pertanyaan kepada sang guru, dengan maksud untuk menguji pemahaman gurunya. Jadi sebenarnya dia tahu apa jawabannya, namun dia ingin menguji seberapa hebat kemampuan gurunya.

Tiba-tiba berdirilah seorang murid senior dan mengatakan tepat di depan ibnu sinna
“perbaikilah adabmu, wahai putra sinna. Demi Allah aku sendiri yang akan menjawab pertanyaanmu. Tidak perlu guru yang turun tangan menjawab pertanyaanmu!”

Berbicara tentang adab menuntut ilmu, maka sebenarnya kita sedang berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih penting daripada ilmu itu sendiri.

Imam syafi’i dengan sangat cemerlang mengajari kita tentang hal ini. Beliau mempunyai dua guru. Imam malik di madinah, dan Muslim bin Khalid Az-Zanji di makkah. Di dua tempat ini, seperti umumnya orang yang sedang berguru, imam syafi’i diberi kesempatan “magang” mengajar di majelis sang guru, dengan didampingi oleh beliau. Ada dua kursi disana. Satu untuk imam syafi’i, satu untuk sang guru. Di tengah-tengah beliau mengajar, beliau selalu menoleh ke arah sang guru, memastikan bahwa apa yang beliau ucapkan sudah tepat, dan meminta koreksi jika apa yang beliau sampaikan ternyata keliru. Itu waktu gurunya masih hidup.

Hebatnya, begitu kedua gurunya meninggal, beliau sama sekali tidak merubah kebiasaan itu. Tetap ada dua kuris di sana. Yang satu kursi diduduki beliau, yang satu kursi dibiarkan kosong (seolah-olah sang guru akan datang dan menduduki kursi itu). Bahkan saat tengah asik mengajar, beberapa kali beliau menoleh ke kursi kosong itu, meminta persetujuan dan koreksi, seolah-olah sang guru sedang ada di sana mendampinginya. Hebat bukan?

Pada akhirnya kita mengerti. Kunci rahasia mengapa imam syafi’i begitu dihormati adalah karena beliau juga sangat menghormati guru-gurunya. Menempatkan mereka pada posisi dimana seharusnya mereka ditempatkan. Memperlakukan mereka dengan sebaik-baik perlakuan, dan memberi penghormatan dengan setulus-tulus penghormatan.

Mungkin akan selalu segar di ingatan kita bagaimana seorang Syafi’i Muda, dengan azzam kuat yang beliau miliki, beliau membeli kitab al muwatho’ karangan imam malik. Lalu, begitu kitab itu ada di genggaman tangan, dia hafalkan kitab itu dari awal hingga akhir. Setelah itu dia pergi ke imam malik. Untuk apa? Untuk belajar al muwatho’ yang sudah dia hafal di luar kepala.

Namun Syafi’i muda bukanlah kita, yang –jangankan hafal-, tau sedikit tentang sesuatu saja, kadang kita merasa tidak perlu belajar lagi. Sekali lagi Syafi’i muda bukanlah seperti kita. Walau dia hafal betul semua detail tulisan di al muwatho’, dia tetap dengan seksama mendengar penjelasan imam malik. Sebenarnya dia sudah tahu kata-kata apa yang akan disampaikan sang guru, namun dengan tekun dia dengarkan apa yang diajarkan gurunya itu, tanpa merasa sudah serba tahu. Hingga akhirnya imam malik yang justru menyadari “kejanggalan” ini
“nak, sepertinya kamu sudah tidak perlu aku  ajari lagi. Sekarang gantian, kamu saja yang mengajar disini”

Dan ini yang menarik. Imam malik, sang pengarang kitab al muwatho’ itu, beliau masih “membutuhkan” catatan saat mengajarkan kitabnya sendiri. Sedangkan syafi’i? Dia tak perlu catatan lagi untuk mengajarkan kitab yang bahkan tidak dia karang.
   
Ikhwah, dari Imam syafi’i kita belajar tentang sebuah hal besar. Ada sebuah rangkaian paling penting dalam keberjalanan kita menuntut ilmu. Dia dinamakan adab, utamanya adalah adab terhadap guru-guru kita yang dengan rela membagi ilmu yang mereka punya.

Tolak ukur kebermanfaatan ilmu kita adalah, dengan adanya ilmu yang kita punya, kita semakin dekat kepadaNya. Maka otomatis, kita akan semakin rendah hati, karena kita benar-benar menyadari bahwa kita tidak akan menjadi apa-apa kalau Allah tidak mengizinkannya. Oleh karena itu, ketika ilmu yang kita punya justru membuat kita berani seenaknya menghina yang lainnya, menganggap rendah guru-guru kita, dan merasa tidak perlu lagi mendapat nasihat dari saudaranya, masihkah ia bisa dikatakan memberi manfaat untuk kita? Mari bertanya kepada diri kita masing-masing. Bisa jadi, belum manfaatnya ilmu kita selama ini hanya karena sebuah hal sederhana: buruknya adab kita. Maka, #MariBerbenah

@FsldkIndonesia
@densyukri