Selasa, 05 Januari 2016

SURAT TERBUKA FAHRI HAMZAH, WAKIL KETUA DPR RI, KEPADA REKTOR UNJ YANG TELAH MEMECAT KETUA BEM RONNY SETIAWAN


Saya baru menulis soal Jiwa Reformasi dan Demokrasi Kampus. Tiba2 ada kabar rektor yg pecat mahasiswa karena kritis. Satu kata: LAWAN! Dia kira dirinya siapa itu rektor, pakai UU ITE pecat mahasiswa.

Rektor UNJ yang terhormat, Anda harus bangga punya mahasiswa yang kritis, karena itu pertanda nurani bangsa kita masih hidup. Mungkin Pak Rektor tidak pernah jadi aktivis sehingga nurani tidak pernah diasah krisis. Atau Pak rektor tidak pernah keluar dari dalam laboratorium atau perpustakaan kepada dunia nyata yang dinamis.

Menyesallah Pak rektor karena Anda tidak pernah menjadi demonstran seperti mahasiswa yang Anda pecat. Menyesallah Pak rektor karena Anda bercokol lebih sebagai pejabat daripada penjaga kebebasan akademis.

Tahukah Anda arti kebebasan akademik wahai Pak rektor? Dunia akademik yang Anda pimpin harus dibebaskan dari tekanan apapun selain ilmu pengetahuan. Sehingga dalam kampus, tempat kebebasan berpikir kita semai, tidak boleh ada simbol kekuasaan

Dan kalau Rektor telah berubah menjadi simbol kekuasaan maka Rektor pun layak ditumbangkan!

Tapi Pak Rektor yang terhormat. Pagi ini, seperti pagi di setiap musim hujan ketika Jakarta dan sebagian kota terancam banjir, Anda telah membantu para aktivis mahasiswa bersemi bersama bunga, pertanda awal musim kita

Terima kasih Pak Rektor, Anda mengingatkan mereka ketika politik atau kekuasaan telah bersenyawa dengan para Ilmuan. Ketika kebenaran telah dirampas dari ilmu pengetahuan. Dan ketika semua menjadi kelam, karena kebenaran tenggelam bersama dominasi kekuasaan. Mungkin ini pertanda yang berulang dalam setiap perubahan besar. Bahwa kebenaran mesti diperjuangkan oleh keberanian!

Dan ketika semua telah menjadi mapan, kita hanya punya satu pilihan yaitu hidup bersama dengan orang-orang yang dalam hatinya penuh keberanian.

Dalam sejarah Indonesia, inilah yang muncul dalam setiap reformasi dan kemerdekaan. Dan keberanian itu telah muncul bersama pemuda dan mahasiswa.

Seperti hari ini dan hari-hari mendatang. Adalah hari-hari perjuangan!

Selamat berjuang teman2 mahasiswa. Tiada kata jera dalam perjuangan!

Allahuakbar, Merdeka!

Minggu, 03 Januari 2016

Selamat Datang, MEA

Tanpa upacara khusus, kemarin 31 Desember 2015, secara resmi MEA mulai diberlakukan. Dalam MEA, pasar untuk produk kita tidak lagi sebatas 240 juta peenduduk Indonesia, tetapi 615 juta penduduk di 10 negara ASEAN. 

Kesepakatan pembentukan Masyarakat Ekonomi ASEAN muncul pada saat KTT ASEAN ke-9 di Bali tahun 2003 atau sudah 12 tahun yang lalu di era Presiden Megawati.

Dalam blueprint Masyarakat Ekonomi ASEAN itu terdapat empat pilar pendekatan strategis, yakni:
1. Menuju pasar tunggal dan basis produksi;
2. Menuju wilayah ekonomi yang berdaya saing tinggi;
3. Menuju kawasan dengan pembangunan ekonomi yang seimbang;
4. Menuju integrasi penuh dengan ekonomi global.

MEA secara ringkas berisi lima hal: diberlakukannya arus bebas antar sesama negara di ASEAN, meliputi :

1. Arus bebas Barang
2. Arus bebas Jasa
3. Arus bebas TK Trampil.
4. Arus bebas Modal
5. Arus bebas Investasi

Untuk kelima hal tersebut, kita punya kesempatan yang sama. Apakah kita akan menyerbu negara Asean lain dengan Barang, Jasa, Tenaga Kerja Trampil, Modal dan Investasi, atau sebaliknya justru kita yang akan diserbu. Semuanya tergantung dari strategi bisnis kita.

Jangan kaget kalau akan banyak Kantor-kantor Akuntan Singapura, Konsultan-Konsultan Penilai  Malaysia,  Pengacara2 Filipina, POM Bensin Petronas, salon-salon Vietnam, warung-warung Filipina, bengkel Myanmar atau bahkan Panti Pijat Thailand akan ada di lingkungan rumah kita, bersaing langsung dengan usaha kita.

Juga pasar tenaga kerja kita akan diserbu tenaga2 profesional dari negara2 Asean. Akan lebih  banyak nanti orang2 Malaysia, Filiphine, Thailand atau Singapore bareng satu lift dengan kita di gedung yang sama.

Bagaimana kita bisa survive ? Kuncinya Indonesia Incorporated !,  Indonesia first . Kita harus bersatu sebagai bangsa Indonesia, bangga dengan produk dalam negeri, utamakan produk bangsa Indonesia (Indonesia first). Dengan membeli produk Indonesia sebagai prioritas,  bantu dan dukung usaha bangsa Indonesia sendiri dan berlomba memberi layanan yang makin baik, cepat dan profesional.

Tentu saja produk kita dan layanan kita harus berkualitas, sehingga mampu bersaing secara fair.

Di bidang SDM kita juga harus siap bersaing lebih ketat. Kuncinya kualitas SDM kita harus unggul dan profesional. Kemampuan komunikasi Bahasa Asing kita juga harus ditingkatkan. Tentunya kita tidak menginginkan kita sendiri dan anak2 cucu kita  jadi jongos di negeri kita sendiri bukan?. Oleh karenanya Universitas2 kita harus mampu meningkatkan kulitas lulusannya. Perusahaan-Perusahaan Dalam negeri kita juga jangan bermental inlander, yang menganggap bahwa orang Asing itu pasti lebih hebat. Pengusaha kita harus juga mengusahakan lulusan dalam negeri kita yg berkualiitas dibanding Tenaga dari negeri tetangga.

Di samping itu semua ketahanan budaya dan keagamaan kita juga harus diperkuat. Pendidikan ahlak dan Agama harus dimulai sejak dini di lingkungan rumah kita masing2, agar anak2 kita kelak tidak larut dan terombang-ambing dalam arus globalisasi.

Jadi MEA bawa berkah atau musibah? Semua Tergantung kpd pemerintah dan masyarakat Indonesia. Sepanjang anda siap utk kompetisi dan adu keahlian, maka anda anda survive serta mungkin lead the wave! Selamat berkompetisi bersama MEA !!!

Mendengarkan Akhowat Berceramah


Hari ini saya di Semarang, kota kelahiran dan tempat saya menjalani kehidupan sebagai anak anak.

Kali ini, saya menyengaja untuk sholat dzuhur di Masjid An Nur, Lamper Tengah, Semarang Timur, dekat rumah lama saya. Bernostalgia kampung halaman.

Masjid ini termasuk baru,  lumayan nyaman sebagai tempat persinggahan.Yang lebih spesial lagi kenapa saya sering ke masjid ini karena, di sebelah masjid ada penjual nasi pecel yang sedap, selalu ramai pengunjung. Ini ritual saya sebelum ke masjid : mecel !

Di masjid saya menyaksikan ada puluhan bocah siswa SD,  duduk melingkar menghadap seorang akhowat yang berseragam orange, sedang memberi ceramah. Banyak juga ibu ibu yang mendampingi anaknya ikut mendengarkan.

Ternyata sedang ada Pembinaan Beasiswa Ceria - Rumah Zakat Indonesia (RZI).

Saya mendekat, menguping isi "ceramah" akhowat RZI tersebut :
".... tadi kita evaluasi, masih banyak yang tidak sholat subuh ya ?" Begitu salah satu isi ceramah akhowat tadi.

Lanjutnya, "ibu ibu agar mengingatkan putra putrinya untuk sholat shubuh njih ?, dari pada besok anaknya digoreng di neraka ..." saya tersenyum mendengarnya.

Anak anak juga diajari cara berdoa, tadi mereka diminta mengaminkan doa penutup, doa untuk kaum muslimin di Somalia, di Palestina, di Suriah dan doa kebaikan lainnya, tak lupa doa untuk teman teman mereka yang sedang sakit.

Luar biasa para akhowat dengan dedikasinya menamkan jalan hidup yang benar, peduli dengan kaum Muslimin diamanapun.

Saya terharu mendengarnya. Teringat kehidupan masa kecil saya, setelah pulang dari SD Negeri,  selalu kelayapan hingga sore, main di kali mencari ikan, memulung bungkus permen di tempat sampah sebagai koleksi, mencari jangkrik, "mencari" mangga atau pisang di kebun orang, main tanah liat untuk mobil mobilan, nonton orang berjudi dan lain lain mainan anak kampung.

Masa kecil saya tidak tau mana Somalia, Suriah dan Palestina, apalagi mendoakannya seperti anak anak tadi di masjid.

Mudah mudahan Allah swt memberi balasan berlipat ganda kebaikan di akerat kelak, kepada para akhowat tadi, dan memberikan jodoh, suami yang baik, untuk bersama hidup di jalan dakwah. Aamien.

(BD)

��������������������