Minggu, 03 Januari 2016

3 Sosok Milioner Muda Indonesia yang Paling Fenomenal di tahun 2015


Sekedar info, tingkat pertumbuhan jumlah milioner Indonesia termasuk yang tertinggi di dunia. Yang mengejutkan, banyak dari mereka yang usianya masih muda belia.
Generasi milioner digital. Begitu mungkin istilahnya. Dalam usia yang masih sangat muda, mereka meraih rezeki secara masif melalui keajaiban digital dan social media.

Pagi ini kita akan mengulas tiga sosok milioner yang masih sangat muda belia, dan memberikan pesan telak : Anda tak perlu menunggu tua untuk menjadi kaya dan meraih kebebasan finansial.
Sajian pagi ini sejatinya merupakan bagian dari serial Entrepreneur of the Year 2015 yang rutin dihadirkan oleh blog ini setiap akhir tahun.

Ada tiga sosok muda yang layak dinominasikan menjadi kandidat Entrepreneur of the Year 2015. Kebetulan ketiganya juga sudah meraih, atau hampir mencapai posisi sebagai milioner.
Mari langsung saja kita mulai ulasannya.

Nominasi # 1 : Laskita Pradnya Paramita.

Dara muda dari Bandung ini masih sangat belia, baru 20 tahun. Ia adalah pemilik bisnis kaos kaki yang sukses, dengan brand VoriaSocks.

Kebetulan dara muda ini juga bening (seperti yang bisa Anda lihat dalam fotonya).

Kisah usaha Sita (nama panggilannya) dimulai dari rasa sakit hati karena diledek oleh teman-teman SMAnya. Ceritanya saat itu dilakukan tes IQ di sekolahnya. Ternyata skor IQ hanya 90-an, jauh dibawah rata-rata, sedikit lagi masuk kategori idiot.

Sejumlah temannya meledek dia. “Kamu tidak akan bisa sukses Sita, karena IQ-mu jongkok”. Begitu ledek teman-temanya sambil tertawa terbahak.

Hati Sita terluka. Ia acap menangis sendirian di kamarnya, sembari mengenang ledekan dan cibiran temannya yang menyakitkan hati.

Sita lalu bertekad untuk membuktikan prasangka yang salah itu. Meski IQ-nya pas-pasan, Sita yakin tetap bisa meraih sukses.
Dan Sita percaya dengan pepatah lama ini : Massive Success is the Best Revenge.

Benar, sebab cara terbaik untuk membalas cibiran orang lain yang meremehkan potensi dirimu adalah bukan dengan emosi dan kemarahan. Namun dengan prestasi dan sukses yang luar biasa.

Begitulah, Sita lalu memulai usahanya. Ia pertama kali memulai bisnisnya dengan bisnis kuliner. Alhamdulilah, semuanya gagal.

Ya paling epik adalah saat ia merintis usaha kuliner ayam goreng dengan merk “Ayam Rusak”. Ia beri logo usahanya dengan gambar ayam yang diperban kepala dan kakinya.

Sial, usaha itu juga gagal dan logo ayam diperban justru membawa karma. Sita kecelakaan saat mengurus usaha ini; dan sekujur wajah dan kakinya diperban penuh luka. Persis dengan gambar ayam diperban dalam logonya.
Ia mengenang dengan senyum pahit : hati-hati bikin logo mas. Bisa membawa karma.

#NotedMbak

Namun jalan rezeki acap datang dari arah yang tak terduga-duga. Saat jalan-jalan di Pasar Baru Bandung ia melihat kaos kaki dengan motif cantik yang dijual dengan harga 45 ribu per lusin. Ia langsung borong kaos kaki itu, dan punya feeling : produk ini pasti laku kalau aku jual kembali.

See. Action bisnis acap hanya diputuskan dalam sekejap, dengan intuisi dan keberanian. Bukan dengan dipikir dan dianalisa terus menerus tapi no actions.
Sita lalu memasang dan menjual kaos itu di akun instragram. Feeling Sita benar, kaos kaki itu laris manis.

Sita langsung memburu langsung supplier kaos kaki itu. Ia juga menyewa jasa desainer freelancer untuk mendesain kemasan kaos kakinya agar tampak berkelas.

Ia juga menghire freelance fotografer untuk memotret produk-produknya ke Instagram. Sebab elemen visualisasi amat krusial agar sukses berjualan di Instagram.

Sita bilang : IQ saya mungkin dibawah rata-rata. Tapi saya paham bagaimana memanfaatkan keahlian orang lain untuk membesarkan bisnis saya.
Pesan itu layak dikenang. Anda tidak perlu pandai dalam segala hal. Sebab Anda bisa memanfaatkan kepandaian dan keahlian orang lain untuk membesarkan bisnismu.

Jualan Sita dengan brand VoriaSocks kini makin laris. Omzetnya dalam sebulan bisa tembus Rp 200 juta perbulan. Dengan profit margin sekitar 40%, ia bisa meraup profit bersih hingga Rp 80 juta/bulan.
Sebuah pencapaian yang masif untuk anak muda dengan usia baru 20 tahun. Dan harap diketahui, Sita hanya lulus SMA. Ia tidak melanjutkan kuliah karena ya itu tadi, skor IQ-nya pas-pasan.

Ada orang dengan IQ pas-pasan bisa menjadi jutawan. Sebaliknya, ada orang dengan IQ tinggi dan lulusan S1 tapi penghasilannya pas-pasan. Itulah misteri kehidupan.
Untuk sukses bisnis kadang yang dibutuhkan bukan sekedar kecerdasan akademik dan bangku kuliah yang hanya teori belaka. Yang kadang lebih menentukan adalah “kecerdasan jalanan” atau street smart.

Nominasi # 2 : Yasa Singgih.

Usia Yasa juga masih muda, 20 tahun. Ia adalah pendiri dan pemilik brand Men’s Republic, sebuah bisnis fashion yang sukses.

Yasa memulai perjalanan usahanya karena dipicu oleh peristiwa yang menggetirkan.

Di suatu malam ia diajak bicara oleh ayahnya. Saat itu ia masih sekolah 3 SMP. Ayahnya memberi kabar yang mengejutkan : dokter memvonis ayahnya sakit jantung, dan harus dioperasi dengan biaya 100-an juta rupiah.

Saat itu belum ada BPJS. Dan biaya sebesar itu dirasa berat bagi keluarga Yasa yang hanya berasal dari keluarga biasa saja yang bersahaja.

Untuk meringankan beban keuangan orang tuanya, Yasa bertekad mencari uang sendiri. Begitulah, sejak kelas 3 SMP, Yasa sudah mencari nafkah sendiri, dengan menjadi MC di mal-mal.

Dari honor menjadi MC itu, ia lalu punya modal untuk memulai bisnis yang ia awali saat ia sekolah SMA. Bisnis pertamanya, jualan lampu hias. Produknya tidak laku dan gagal. Ia lalu memulai usaha yang kedua dengan jualan kaos produksi sendiri. Karena desainnya kurang bagus, kaos ini juga ndak laku dan gagal lagi.

Daya resiliensi adalah saat Anda gagal empat kali dan bisa bangkit lima kali. Dan berani mencoba lalu gagal itu mungkin lebih baik daripada tidak mencoba sama sekali.

Sebab rasa takut akan kegagalan – itulah benih dari petaka hidup yang sarat kenestapaan.

Usaha yang ketiga yang Yasa lakukan adalah dengan menjual kaos hasil kulakan di Pasar Tanah Abang. Oleh Yasa, kaos ini dibranding dan dikemas dengan menarik sehingga tampak berkelas.

Yasa juga memakai model yang keren untuk foto produk-produk kaosnya (modelnya adalah teman sekolahnya yang kebetulan keren).

Ia lalu menjual kaos-kaos itu secara online. Ditopang oleh kekuatan visualisasi yang bagus, produk kaos Yasa hasil kulakan Pasar Tanah Abang laku keras.

Daya visualisasi. Ini elemen kunci yang kadang dilupakan oleh para penjual olshop dan Instagram. Banyak foto produk yang dipotret dengan sembarangan. Akhirnya produknya tidak laku.

Karena produknya laku, Yasa kemudian memburu langsung supplier dan lalu expand ke produk lain seperti Jaket dan Sepatu. Semua diberi bradinng Men’s Republic – dengan tampilan yang berkelas dan profesional.

Bisnis Yasa melalui Men’s Republic terus melaju. Kini omzet bisnisnya tembus 400 jutaan/bulan. Dengan margin 30%an, ia mendapat net profit sebesar Rp 120 juta/bulan. Sebuah jumlah yang amat mengesankan untuk anak muda yang masih berusia 20 tahun (dan masih kuliah di Binus semester 5).

NEVER TOO YOUNG TO BECOME A BILLIONAIRE. Demikian judul buku yang pernah ditulis oleh Yasa Singgih. Sebuah kalimat yang benar adanya, dan sudah ia buktikan sendiri.
Benar, Anda tidak perlu menunggu tua (atau pensiun) untuk menjadi kaya dan meraih kebebasan finansial.

Nominasi # 3 : Diajeng Lestari.

Perempuan berusia 29 tahun ini adalah founder dan owner dari "Hijup com" – sebuah mal online busana muslimah paling terdepan di tanah air.

Diajeng adalah seorang ibu dari satu anak yang masih lucu. Dulu alumnus FISIP UI ini bekerja sebagai pekerja kantor di sebuah lembaga riset pemasaran. Pada tahun 2011 ia resign, dan membangun portal Hijup com.

Konsep Hijup adalah menjadi mal online untuk brand-brand busama muslimah terdepan di tanah air. Hijup lahir persis ditengah gelombang ledakan konsumen muslimah Indonesia.
Salah satu langkah paling jenius dari Hijup adalah memanfaatkan Youtube untuk membangun audience yang masif dan loyal.

Melalui ratusan video tutorial memakai hijab, portal Hijup membangun koneksi yang kuat dengan calon pelanggannya. Dan berhasil. Kini channel mereka di Youtube punya pelanggan lebih dari 150 ribu subscribers, dan salah satu brand yang paling berhasil memanfaatkan kekuatan “video marketing”.
Itulah yang disebut sebagai “brilliant content marketing strategy” – memberikan value kepada calon pelanggan melalui beragam kanal social media demi membangun relasi jangka panjang.

Melalui video-video di Youtube itu, Hijup mungkin telah ikut memulai revolusi Hijabers di tanah air – sebuah ledakan konsumen muslimah yang tumbuh pesat sejalan ledakan smartphones.

Hijup lalu jadi fenomena. Bisnisnya terus tumbuh. Awal tahun ini, Hijup mendapatkan pendanaan sekitar 30 – 50an milyar dari venture capital (angka estimasi). Target Hijup, menembus omzet 100 milyar tahun 2016. Padahal Hijup baru didirikan tahun 2011.

Dalam lima tahun menembus omzet 100M. Itulah kekuatan kombinasi kreativitas digital dan ledakan internet di Indonesia.

DEMIKIANLAH, kisah tiga sosok kandidat nominasi Entrepreneur of the Year 2015.

Sita. Yasa. Diajeng. Tiga sosok anak muda brilian yang meraih rezeki masif karena kekuatan kreativitas dan keajaiban internet.

Mereka mungkin sosok generasi digital yang menjadi kaya murni karena ledakan internet dan social media yang muncul di tanah air dalam lima tahun terakhir.

Atas berbagai pertimbangan, maka Diajeng Lestari yang paling layak dinobatkan sebagai ENTREPRENEUR OF THE YEAR 2015.

Dalam salah satu wawancara, Diajeng pernah bilang kunci keberhasilan dia adalah ini : Yakin dengan Dirimu. Yakin dengan Impianmu.

Dream
Believe
Make it Happen

Penulis : Yodhia Antariksa

Sesyar'i Apapun Hijabmu, Engkau Tetap Fitnah Bagi Kami

Seorang muslimah bercerita :

Ana mempunyai kawan penuntut ilmu syar'iy di jakarta sini, biasanya jika telah tiba musim liburan dia dijemput oleh mahramnya (kakak kandungnya),
pada suatu waktu ketika hendak safar kakaknya ingin singgah di tempat teman ikhwannya, maka dia pun menyuruh adiknya untuk menunggu di kos nanti kakaknya kembali lagi untuk menjemputnya, dan berkatalah adiknya :

"ana ikut aja kesana, ntar ana tunggu antum di luar, kan cuma mau pamitan aja, dari pada antum kesana-kemari"

"gak boleh. Bahaya" Jawab sang kakak

"bahayanya apa? ana kan dah berjilbab syar'iy begini ( cadar, hitam pula, longgar dan panjang lagi), ana juga gak ketemu teman-teman antum"

"bahayanya besar, fitnahnya gede, bisa saja salah seorang melihat anti dan syeithan pun memasukkan penyakit di hatinya.. ( kasian mereka belom sanggup nikah dan mereka juga masih semangat dan ingin tenang dalam menuntut ilmu) dan anti pun demikian"

"Emangnya ana dengan penampilan ana yang begini masih bisa menimbulkan fitnah?"

Simaklah jawaban si Kakak " sudah menjadi sunnaturrasul bahwa fitnah bagi kaum adam adalah antunna ukhti, antunna berjilbab atau tidak berjilbab, berjilbab gaul maupun berjilbab syar'iy, bercadar sekalipun ( ana ingat waktu itu para akhwat sangat takut terjun dalam tabarruj sehingga pakaiannya tidak seperti pakaian-laki akhwat yg marak saat ini) maka tetap saja antunna adalah fitnah bagi kaum laki-laki...
bagi laki-laki yang awam, maka fitnah besar mereka adalah wanita-wanita telanjang (berpakaian tapi hakikatnya telanjang), yang tidak menggunakan hijab, yang berpakaian seksi...
adapun para ikhwan fitnah wanita yg berpakaian seksi itu bagi mereka besar juga, namun lebih besar lagi fitnah antunna yg sudah berpakaian dan berhijab syar'iy,
mereka bisa menundukkan pandangan terhadap wanita-wanita seksi, namun sulit menundukkan hati terhadap akhwat yg berpakaian syar'iy,
bagi kami ( para ikhwan) biasa wanita yg seksi di jalan-jalan, kami bisa menundukan pandangan dari mereka, namun yang tidak biasa bagi kami adalah mengetahui ada akhwat berpakaian syar'iy lewat di dekat kami dan sangat sulit untuk menjaga hati kami, benar kami menundukan pandangan namun hati dan pikiran kami sulit untuk ditundukkan...
melihat wanita yg berpakaian seksi lewat didepan kami, kemudian kami berpaling dan beristigfar itu tidak seberat, melihat kibasan ujung jilbab panjang dan hitam salah seorang dari antunna, itu akan terus terbayang-bayang dan mengganggu hati-hati kami..." ( selesai perkataan kakaknya)

Ketika si adik menceritakan hal itu kepada kami, maka sejak itu kami menghindari jalan melewati tempat yg biasanya di lalui ikhwan, agar tidak mengganggu mereka dengan ujung jilbab kami.. allahul musta'aan...

===============
===============
Dikutip dari Note Maryam Habsyi dengan sedkit perubahan.

Jadi, Apa Resolusimu?

Menjelang datang pergantian tahun, banyak teman-teman saya membuat resolusi Tahun Baru. Bunyi resolusinya hebat-hebat. Ada yang pengin berhenti menjadi karyawan dan beralih kuadran menjadi entrepreneur. Ada yang ingin mencapai kebebasan finansial. Yang ambisius pengin mendirikan 5 startups sekaligus. Ada yang ingin menulis buku. Yang jomblo pengin mendapatkan pacar. Yang sudah punya pacar pengin menikah. Yang gendut pengin mengurangi drastis berat badan. Dan masih banyak lagi.

Kebanyakan resolusi tersebut bombastis dan seringkali berlebihan. Tak heran jika riset yang dilakukan Richard Wiseman pada tahun 2007 menemukan bahwa 88% dari mereka yang memiliki resolusi Tahun Baru gagal mewujudkannya. Ya, karena umumnya semangat membara saat di penghujung tahun, namun begitu sampai saat untuk action mewujudkannya, tenaga menjadi loyo. Besar pasak daripada tiang.

Bicara resolusi dulu saya juga sama, memiliki resolusi hebat-hebat begitu datang malam pergantian tahun. Pengin punya mobil. Pengin punya rumah. Pengin karir melejit. Pengin mengambil doktor. Pengin punya perusahaan sendiri. Resolusi-resolusi itu hebat-hebat sehingga menjadi penyemangat yang luar biasa bagi saya untuk terus maju di tahun yang baru. Namun belakangan resolusi saya berubah. Selama lima tahun terakhir isi resolusi saya tak pernah beranjak dari dua hal: simple life dan giving.

Simple Life

Resolusi pertama adalah hidup sesimpel mungkin. Hidup gaya orang tua saya dulu di kampung: hidup super sederhana, tidak neko-neko, tidak berlebihan, bersahaja, apa adanya. Yang paling gampang simple life adalah consume less: makan-minum tak berlebihan (minum air putih, makan slow food yang murah tapi sehat), berbelanja tak berlebihan, kepemilikan tak berlebihan. Betul kata Azim Jamal dalam The Power of Giving, “When you reduce your consumption, you can reduce your stress, the pressure in your life, and even your fears.”

Simple life adalah fokus menjalani yang betul-betul penting, dan mengenyahkan beragam hal yang nggak penting. Kini saya mencoba fokus pada kegiatan yang betul-betul saya sukai dan cintai (terutama bekerja, membaca-menulis, dan mendengarkan jazz). Mengurangi multi-tasking. Mengurangi chit-chat nggak perlu di grup WA, Twitter, atau Facebook. Mengurangi perhatian pada kegaduhan sosial/politik yang datang bertubi-tubi (dari kasus Nikita Mirzani hingga “Papa Minta Saham”). Mengurangi hura-hura (seperti membakar kembang api di malam Tahun Baru). Dan yang paling sulit, mengurangi marah dan suntuk. Be mindful.

Simple life adalah juga mengerem keinginan. Dulu saya punya 1001 keinginan dan ambisi, sehingga bingung dan penuh stress untuk mewujudkannya. Kini, saya hanya punya satu-dua ambisi sehingga fokus dan sepenuh hati mewujudkannya. Kita harus jujur dan berdamai dengan diri sendiri. Sumeleh, kata orang Jawa. Dengan sedikit ambisi, saya makin banyak waktu berkontemplasi, berkoneksi (fully-connected) dengan apa yang sedang saya lakukan, dan ujung-ujungnya fokus berkreasi. Stop cluttering your life, get contemplating… and creating!!!

Giving

Resolusi kedua adalah giving, yaitu sebuah mindset untuk tidak lagi fokus pada diri sendiri (self-focused), tapi pada orang-orang di luar kita (other-focused). Dulu resolusi saya hebat-hebat (pengin sekolah tinggi, pengin menjadi penulis hebat, pengin menjadi konsultan hebat, pengin kaya raya, dst-dst), tapi itu semua untuk diri saya. Setelah usia saya menginjak 40 sekitar lima tahun lalu semuanya berubah. Apa-apa yang untuk diri saya menjadi tak berarti lagi. Saat itu saya mengatakan: “I’m finished. It’s the time to give.”

Benar kata Mark Twain, “The two most important days in your life are the day you are BORN and the day you find out WHY”. Ada dua hari terpenting dalam hidup kita. Pertama saat kita lahir, itu sebabnya kita merayakannya tiap tahun. Lalu apa yang kedua? Hari pernikahan? Hari kematian? Bukan. Yang kedua adalah hari dimana kita menemukan jawab kenapa kita hidup. Di usia 40 saya menemukan jawab, kenapa saya hidup: untuk berarti bagi orang lain. Itulah turning point hidup saya. Life begins at 40.

Itu sebabnya sejak lima tahun lalu giving menjadi resolusi hidup saya tiap tahun. Jangan bayangkan saya pengin menjadi giver hebat macam Mark Zuckerberg yang menyedekahkan Rp 600 triliun kekayaannya; atau Mother Teresa yang begitu heroik membantu kaum papa di Kalkuta. Saya hanyalah simple giver yang membantu dengan sederhana, sejauh yang saya mampu. Tidak ambisius, yang penting ikhlas.

Percaya saya, ketika kita menjalani simple life, maka pasti kita akan merasa berlebih. Dan ketika kita merasa berlebih, maka banyak bagian yang bisa kita berikan kepada orang lain. Simple life leads to abundance.

Memberi yang sederhana bisa macam-macam bentuknya. Memberi duit pasti terbatas, karena saya tidak kaya-kaya amat. Memberi pengetahuan mungkin lumayan karena saya punya sedikit pengetahuan dan pengalaman di bidang manajemen, marketing, dan branding. Memberi pengetahuan bisa diwujudkan dalam bentuk ceramah/seminar dan tulisan kolom/buku. Sejak lima tahun lalu saya mencoba menulis dengan lebih jujur. Artinya, saya menulis demi kebaikan orang lain, bukan semata untuk diri saya.

Memberi juga bisa berwujud waktu, tenaga, dan pikiran. Itu sebabnya saya dan teman-teman yang peduli mendirikan Komunitas Memberi tiga tahun lalu untuk membantu UKM naik kelas. Bersama-sama kami mengajari para pelaku UKM branding, servis, manajemen keuangan sederhana, manajemen SDM, dsb agar mereka bisa menjalankan usahanya dengan lebih baik. Bersama teman-teman, saya juga merintis Indonesia Brand Forum untuk membangun kesadaran membangun brand lokal Indonesia.

Never-Ending

Di depan saya katakan bahwa resolusi saya tiap tahun tak beranjak dari dua hal: simple life dan giving. Ya, karena untuk mewujudkan keduanya sulitnya minta ampun. Butuh refleksi diri, butuh kebesaran hati, butuh keikhlasan, butuh latihan. Semakin dijalani, semakin banyak PR yang harus dikerjakan.

Tiap kali datang detik-detik menjelang pergantian tahun, di tengah gemuruh orang-orang membakar kembang api, saya selalu bertanya: apa yang sudah saya berikan untuk orang lain? Dan tiap kali menjawab pertanyaan itu, saya jadi malu. Karena selama setahun ke belakang saya hitung-hitung, rupanya tak banyak yang bisa saya berikan. Giving is a never-ending journey. Memberi adalah perjalanan tanpa akhir di sepanjang sisa hidup kita."

Sumber: www.yuswohady.com